Sourdough semakin populer bukan hanya karena rasanya yang unik, tapi juga karena profil nutrisinya yang lebih baik dibanding roti konvensional. Apa yang membuatnya berbeda?
Sourdough difermentasi menggunakan ragi liar dan bakteri asam laktat alami selama 12–24 jam atau lebih. Proses ini memecah gluten dan asam fitat dalam tepung, membuatnya lebih mudah dicerna oleh tubuh.
Dibanding roti putih biasa, sourdough memiliki indeks glikemik yang lebih rendah. Artinya, kenaikan gula darah setelah mengonsumsinya lebih lambat dan stabil — lebih ramah untuk penderita diabetes tipe 2.
Fermentasi memecah asam fitat yang menghambat penyerapan mineral seperti zinc, besi, dan magnesium. Dengan demikian, tubuh bisa menyerap nutrisi dari sourdough lebih efisien.
Meskipun sebagian besar probiotik mati saat dipanggang, metabolit yang dihasilkan selama fermentasi masih bermanfaat untuk kesehatan saluran pencernaan.